BELAJAR BLOGGING | mengatasi Bounce Rate Tinggi pada Google Analytics

BELAJAR BLOGGING | mengatasi Bounce Rate Tinggi pada Google Analytics

BELAJAR BLOGGING | mengatasi Bounce Rate Tinggi pada Google Analytics
BELAJAR BLOGGING | mengatasi Bounce Rate Tinggi pada Google Analytics


Bounce Rete pada situs bisa kita saksikan pada hasil kajian data analistik di google analitycs terkait. Situs yang sudah terhubung dengan GA biasanya menampilkan persentase data jumlah pengguna berkunjung, sesi konversi, Rasio Pantulan, dan Durasi sesi.

Saat ini kita bahas adalah bounce rate sebagai rasio pantulan dimana pengunjung datang pada halaman situs Anda secara mendadak meninggalkan situs karena tujuan mereka tak tercapai atau hilang kesabaran.

Apa itu Bounce Rate?


Bounce Rate diartikan sebagai rasio pantulan terjadi ketika pengguna berkunjung ke situs kemudian beranjak meninggalkan website Anda tanpa menuju ke halaman-halaman lain melalui navigasi (menu, link, breadcrumbs, dsb.). 

Jika 1 pengguna menghasilkan 2 sesi betah bolak-balik halaman situs dengan durasi relatif lama maka bounce rate situs Anda adalah 50%, ini cukup baik.

Ada beberapa faktor kunjungan tersebut disebut sebagai rasio pantulan. Rasio pantulan dinilai sebagai dampak buruk jika melebihi antara 70% hingga 90% diakibatkan dari situs itu sendiri atau juga faktor teknis.

Seperti Apa Bounce Rate Pada Situs

Pada situs lain tentunya berbeda jenis dan tujuannya dalam membangun konten. Pada website perusahaan tentu berbeda dengan situs blog dengan nilai dampak bounce rate nya masing-masing halaman. Pada postingan akan menyumbang rasio pantulan lebih besar dibandingkan halaman beranda (home) dikarenakan sasaran pengunjung pada situs tersebut.

Pengunjung organik umumnya berasal dari penelusuran pencarian di google akan mengklik situs menjadi sasaran kemudian membawanya pada halaman utama (beranda) atau langsung ke konten.

Namun ada pula beranggapan bounce rate tinggi itu baik, menandakan bahwa pengunjung sudah mendapatkan apa yang mereka cari. Misal Anda mencari konten tentang "cara mengatasi bounce rate tinggi" kemudian mengklik salah satu hasil penelusuran google dan membawa Anda langsung ke konten.

Beberapa saat Anda membaca dan memperhatikan isi konten tersebut sudah terhitung durasi berapa lama waktu dibutuhkan untuk memahami seluruhnya kemudian beranjak pergi dan menutupnya.

Faktor Masalah Bounce Rate dan Solusinya

Dari berbagai contoh kasus kami telusuri dari referensi blog lain menyatakan beragam faktor akan mempengaruhi rasio pantulan itu menjadi tinggi atau rendah.
1. Kecepatan Situs Lambat

Kecepatan situs lambat sangat merugikan bagi pengunjung untuk menunggu sebuah halaman konten dapat muncul secara keseluruhan di peramban.

Baiknya sebuah konten dapat muncul secepatnya adalah 1-2 detik, namun karena faktor teknis bisa berasal dari koneksi juga karena beban konten ketika sedang diunggah atau juga banyaknya javascript berjalan secara berlebihan dibalik layar situs Anda. Konten ketika gagal dimuat akan membuat pengunjung hilang kesabaran kemudian beranjak menutupnya.

  • Gunakan template ringan sederhana agar menjalankan javascript tidak berlebihan, karena akan mengurangi kinerja server dalam memuat tampilan konten. Pastikan CSS tampilan tidak membebani kinerja javascript berjalan dengan mengurangi widget yang tak dibutuhkan pada situs.
  • Konten sebagian besar adalah gambar dan video akan dimuat membutuhkan bandwidth besar, maka minimalisir penggunaan gambar agar halaman dapat dimuat tidak lebih dari 1 mb. Menurut Google 70% halaman cepat dimuat dengan bobot konten kurang dari 1 mb pada jaringan 3G. Anda dapat memastikannya melalui Google Page Speed Insight.
  • Lakukan kompresi konten gambar dengan ukuran file maksimal 20 kb, pastikan format PNG atau WebP yang support dapat dimuat di berbagai jenis peramban. Atau bisa memanfaatkan javasricpt untuk mengkompresi gambar agar ukuran file menjadi lebih kecil.

2. Navigasi Situs Tak Jelas
Navigasi bisa jadi fakor orang tak mau mengklik sebuah link atau menu. Situs e-commerce biasanya terdapat banyak tombol navigasi mengarahkan pengunjung untuk menuju suatu halaman sasaran atau melakukan transaksi. Sedangkan navigasi pada blog berupa tombol menu atau link Url yang mengarah pada suatu konten.

Contoh kasus umumnya link bagus secara tekstual akan berwarna biru jika terdapat ditengah-tengah konten. Jika Anda menggunakan gambar sebagai link untuk mengarahkan pengunjung maka jangan menyerupai seperti iklan agar pengunjung dapat membedakan. Menu navigasi dan breadcrumbs pun memiliki peran penting dalam memberikan informasi akurat kepada pengunjung tentang halaman situs.

  • Gunakan tampilan menu standar disesuaikan dengan label konten, agar pengunjung tidak kebingungan mencari.
  • Jika menyematkan link ditengah konten, pastikan mengarah sesuai dengan judul akan dibahas dilain halaman dan memiliki warna standar biru. Atau jika menggunkan tombol pastikan tak menyerupai seperti iklan agar pengunjung tak merasa terjebak. Demikian pula dengan gambar icon sebagai link untuk menuju ke suatu halaman harus jelas.
  • Berilah breadcrumbs pada sebuah halaman konten agar informasi detail penting mengenai label suatu postingan itu berada dapat terlihat.

3. Pengunjung Malas Membaca

Secara tekstual pada konten sebagian besar adalah tulisan memiliki resiko bagi Anda jika pengunjung enggan membaca secara keseluruhan isinya. Penggunaan bahasa singkat, padat, dan font jelas menjadi pekerjaan rumah para blogger agar pengunjung memahami point penting dari postingan.

Jika memang pembahasan Anda adalah berupa artikel penting maka upayakan to the point saja, kemudian beri spasi cukup antara paragraf satu dengan yang lain agar tak melelahkan mata pembacanya.

  • Gunakan font standar seperti Sans Sherif dengan ukuran minimal 16px untuk tampilan desktop, dan 14px untuk layar smartphone.
  • Beri spasi antar paragraf dengan maksimal 3 kalimat didalamnya, agar pemirsa dapat membaca dengan cepat isi dari artikel.
  • Perhatikan sub judul menggunakan tag H2, H3, H4, H5, H6, sudahkah tampil dengan kondisi bold (cetak tebal). Agar pembaca dapat membedakan mana sub judul dan point yang utama untuk disimak.
  • Beri point penting mengenai step (langkah) agar pembaca tak kehilangan bagian penting saat scroll ke bagian bawah konten dan mereka dapat menemukannya kembali di bagian atas konten.
  • Beri perbedaan warna font standar artikel dengan warna link, warna latar (background), point penting, dan iklan. Jika Anda saja tak bisa membedakan, bagaimana dengan pengunjung?.

4. Landing Page Menipu

Halaman landas adalah tujuan dari sebuah link URL membawa pengunjung ke sebuah halaman target yang memiliki keterkaitan dengan halaman sebelumnya.

Contoh kasusnya pemirsa berada pada artikel yang membahas tentang "cara mendaftarkan adsense" namun ditengah artikel tersebut terdapat tautan menyarankan pengunjung untuk membaca artikel tentang "cara investasi di bursa saham".

Bisa karena pengaturan related post tidak sesuai label, kronologi lainnya bisa dari pengunjung mengklik suatu iklan dari suatu web kemudian membawa mereka pada halaman landas tidak relevan dengan kategori sebelumnya.

  • Kenali sumber trafik pengunjung Anda berasal dari mana? dari email, medsos, web rekan blogger lainnya, ataukah dari iklan tersemat di situs rekan bisnis Anda? Pastikan bahwa judul link pada sumber sesuai dengan halaman landing yang dituju.
  • Pastikan bahwa halaman tertuju tidak berubah haluan secara tiba-tiba, artinya ketika sudah tepat berada di halaman tersebut tidak berubah menjadi halaman lain menjurus ke iklan atau bahkan tak menemukan apapun disana.
  • Jika halaman situs Anda memiliki link building untuk menyambung ulasan artikel panjang kemudian dipecah selanjutnya pada tema postingan berikutnya, pastikan nyambung dengan tema sebelumnya. Artinya pembaca setia tak bingung mengikuti langkah pembahasan dari point mana harus dipelajari.

5. Form Mengganggu Pemirsa

Pada saat pemirsa berada pada halaman situs bisanya muncul form menyarankan untuk share, like di medsos, subscribe email atau mengkatifkan notifikasi konten terbaru kepada pelanggan namun beberapa pengujung tak menyukai kemunculan tersebut dan menghalangi konten.

Hal ini akan membuat pemirsa langsung menutup halaman dan beranjak pergi, maka buatlah form seminimal mungkin agar jari-jari pembaca dapat menjangkau area konten jika itu di layar smartphone atau pada halaman versi desktop tak tertutup oleh form tersebut.

  • Jika terdapat form dalam bentuk pop up, pastikan Anda menyertakan tombol close jika pengunjung tak berminat. Jika harus hadir di halaman tersebut pastikan tak menghalangi pandangan si pemirsanya terhadap konten.
  • Jangan memunculkan form notifikasi untuk subscribe atau follow email pada setiap waktu hadir di setiap halaman. Ini jelas mengganggu pembaca dan mereka pasti beranjak pergi.
  • Form pengisian pastikan berada tab yang sama, jika beralih ke target tab baru, maka sudah dipastikan akan menaikkan tingkat rasio pantulan.

Kesimpulan

Rasio Pantulan atau Bounce Rate menyesuaikan dengan kondisi minat pengunjung hadir pada situs Anda. Jika dilihat secara sekilas saja konten tersebut menarik, maka pemirsa akan betah berlama-lama untuk menyimak isi halaman secara mendalam.

Dari berbagai faktor yang berpengaruh terhadap bounce rate sementara masih berhubungan dengan desain tampilan situs memudahkan pengguna menjelajah setiap konten. Dengan memperhatikan hal ini saja mudah-mudahan memberikan gambaran kepada Anda tentang apa itu bounce rate (rasio pantulan)?.

Rasio perhitungan pantulan sesi akan kami bahas pada postingan berikutnya, terutama mengenai cara mengelola situs Anda pada google analytics secara mudah dan sederhana. Semoga bermanfaat.

Belum ada Komentar untuk "BELAJAR BLOGGING | mengatasi Bounce Rate Tinggi pada Google Analytics"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel